SHARE
Rumah Kertas, Sebuah Perpustakaan Mungil di Pedalaman Batulanteh
Rumah Kertas, Sebuah Perpustakaan Mungil di Pedalaman Batulanteh
Rumah Kertas, Sebuah Perpustakaan Mungil di Pedalaman Batulanteh
Rumah Kertas adalah Perpustakaan Mungil di Pedalaman Batulanteh

Sumbawa, Batulanteh.com – Pada titik seperti ini, saya baru menyadari bahwa ternyata waktu begitu cepat berlalu, dan ia membawa banyak perubahan dalam diri kita maupun dunia secara keseluruhan. Banyak kejadian-kejadian yang sulit diterima oleh nalar maupun batin namun terkadang kita kerapkali membiarkannya terjadi. Mungkin saja kita ingin berbuat sesuatu namun tidak tahu dari mana harus memulainya. Atau bisa saja karena kompleksitas masalah yang terjadi, kita bahkan tidak menemukan metode penyelesaian yang sesuai untuk diterapkan. Perasaan-perasaan galau seperti ini seringkali menghantui pikiran saya selama ini. Pada titik ini pula, saya menyadari bahwa saya bukan superhero yang mampu merealisasikan apa yang saya inginkan dalam sekejap mata. Menciptakan peradaban baru tentu tak seperti membolak balikkan telapak tangan. Tapi seandainya tidak segera dimulai, maka kemunduran yang akan menimpa kita dan siapapun yang merasa bahwa hidupnya sedang baik-baik saja.

Pergulatan perasaan diatas yang melandasi berdirinya “Rumah kertas”. Iya, namanya “Rumah Kertas”, sebuah perpustakaan mungil yang kami (Komunitas Pemuda Baturotok) bangun sebagai salah satu program kerja kami dalam merespon isu ketimpangan akses pendidikan di kampung tercinta kami, Batu Rotok. Sejujurnya, nama “Rumh Kertas” terinspirasi dari judul buku Carlos Maria Dominguez yaitu Rumah Kertas. Buku itu menceritakan bagaimana orang-orang yang mencintai buku secara overdosis hidup bersama tumpukan-tumpukan buku di rumahnya. Mereka mencintai dan merawat buku-buku tersebut dan memperlakukannya layaknya anak-anak asuh. Begitu lah kira-kira asal muasal penamaan rumah kertas. Kami ingin menumpuk jutaan lembar-lembar kertas yang berisi ilmu pengetahuan di perpustakaan mini kami. Sejujurnya tak ada filosofi yang begitu spesial dari nama itu, yang ada hanyalah mimpi-mimpi yang kami titipkan melaluinya. Impian yang terbesar tentu keberadaannya bisa bermanfaat buat orang-orang di sekitarnya. Yang kami harapkan cukup sederhana yaitu membayangkan kampung mungil kami sepuluh tahun kedepan dipenuhi oleh ruang-ruang diskusi; orang-orang di sore hari membaca buku dan anak-anak belajar dan bermain dengan riang sambil menceritakan isi buku yang mereka baca. Mungkin sebagian orang bertanya apakah keberadaan sebuah perpustkaan itu penting? atau akankah ada orang yang akan membaca buku-buku itu? mengingat dari pagi hingga petang penduduk kampung sibuk menggarap kebunnya. Lalu dengan senang hati biarkanlah saya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu melalui tulisan singkat ini.

Rumah Kertas, Sebuah Perpustakaan Mungil di Pedalaman Batulanteh
Rumah Kertas, Sebuah Perpustakaan Mungil di Pedalaman Batulanteh

Buku-buku di perpustakaan itu sama pentinya seperti makanan yang kita makan setiap hari. Makanan itu berfungsi sebagai sumber energi yang nantinya akan menggerakkan anggota tubuh untuk bertindak melakukan sesuatu. Namun dalam hidup ini anggota tubuh saja tak cukup membuat segalanya bekerja dengan baik. Kita butuh otak yang menjadi kendali atas pekerjaan-pekerjaan anggota tubuh lainnya. Seperti halnya perut yang butuh makanan, otak membutuhkan nutrisi pengetahuan , dan pengetahuan itu salah satunya bersumber dari buku. Siapa memiliki banyak pengetahuan maka ia akan terlihat lebih bijak dan memiliki pandangan yang luas dalam menaggapi suatu permasalahan.

Rumah kertas ini saya bayangkan seperti lorong kecil yang menghubungkan setiap orang pada dunia luas. Melalui buku-buku yang tersedia di dalamnya, orang bisa melek pada segala hal yang terjadi di seluruh penjuru dunia. Misalkan saja, beberapa buku di Rumah kertas bergenre agrikultur (pertanian) dan aquakultur (perikanan). Darinya kita bisa mempelajari bagaimana orang-orang di belahan bumi lain bercocok tanam atau budidaya ikan. Kita bisa banyak belajar dari kesuksesan mereka. Strategi dan bentuk pemasarannya tentu saja tertuang di dalam buku. Selain itu, buku anak-anak misalnya hadir dalam melatih daya imajinasi mereka; mengajari mereka untuk mempertanyakan segala hal, lalu melacak jawaban-jawaban atas pertanyaan itu. Besar harapan juga bahan bacaan tersebut mampu mendorong anak-anak untuk memahat cita-cita besar mereka di lubuk hati terdalam, sehingga semangat meraihnya akan terus berkobar sampai waktu yang akan menghentikannya. Walhasil, anak-anak bisa tumbuh menjadi individu-individu pembawa perubahan di masa depan. Dalam karya fenomenalnya, Imagines Community, Benedict Anderson mengatakan bahwa cerminan suatu bangsa bergantung dari bagaimana imajinasi atau bayangan anak-anak muda yang ada di dalamnya. Oleh sebab itu apa yang saya dan temen-teman harapkan tentunya adalah lahirnya generasi emas baru yang kritis dan mampu menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat dan bangsa ke depannya. Jadi saya pribadi sangat yakin bahwa keberadaan perpustakaan di suatu tempat merupakan hal yang krusial.

Lalu menjawab pertanyaan terkait keterbatasan waktu membaca. Bagi saya kesibukan yang padat bukan jadi hambatan untuk membaca. Membaca tak harus terikat oleh ruang dan waktu. Di kebun pun bisa baca buku. Toh buku-buku yang ada di Rumah Kertas bisa dipinjamkan tanpa syarat apa pun. Tujuan utama kami ialah mempertemukan buku-buku itu kepada pembacanya. Biarlah ia sobek atau pun lapuk karena tangan-tangan manusia yang membolak balik halaman-halamanya daripada harus rusak dimakan rayap ataupun tikus di rak-rak yang tersusun rapi.

Saya sangat faham betul bahwa tulisan ini tentu saja belum mampu mendeskrisikan “Rumah Kertas” secara keseluruhan. Namun di akhir tulisan ini, saya ingin menekankan beberapa hal yang dalam pandangan saya perlu untuk disampaikan. Pertama, menciptakan perubahan tak harus melulu soal turun ke jalan melakukan demonstrasi, ada beberapa alternatif lainnya yang bisa dipraktekkan salah satunya yaitu melalui gerakan literasi. Gerakan literasi yaitu sebuah gerakan sosial genre baru yang mendorong terciptanya manusia yang melek pada segala aspek kehidupan melalui buku. Gerakan literasi yang kami manifestasikan melalui Rumah Kertas berusaha mewujudkan transformasi sosial dengan menyiapkan generasi baru yang melek terhadap segala kebutuhan masyarakat dan mampu menjawab tantangan zaman. Kedua, keberadaan Rumah Kertas yang dipelopori anak-anak muda memunculkan harapan baru akan terciptanya gerakan-gerakan kreatif lainnya. Sebuah penelitian misalnya yang dilakukan oleh Tocqueville di Amerika yang hendak melihat faktor mengapa Amerika begitu maju dan demokratis. Dari penemuan tersebut, ia menyimpulkan bahwa asosiasi-asosiasi yang dibentuk oleh masyarakat-masyarakat sipil Amerika lah mendorong kemajuan di berbagai bidang. Gerakan-gerakan masyarakat sipil tersebutlah yang melakukan berbagai kegiatan advokasi dan edukasi terhadap masyarakat Amerika. Ketiga, perlu diingat bahwa siapapun bisa menjadi pegiat dan anggota Rumah Kertas. Kami akan sangat senang jika beberapa orang bersedia menyumbangkan beberapa gagasannya terkait bentuk gerakan maupun kegiatan ideal yang seharusnya Rumah Kertas lakukan ke depannya.

Oleh: Rifki Sanahdi (Pegiat Rumah Kertas Desa Baturotok).

Untuk berdonasi silahkan hubungi kontak di bawah ini. Terimakasih

Rumah Kertas, Sebuah Perpustakaan Mungil di Pedalaman Batulanteh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here