SHARE
batulanteh
batulanteh
Batulanteh, Potret Negeri Kecil Diatas Awan

Sumbawa, Batulanteh.com – Jika seseorang menghadap ke arah matahari terbenam di tengah kota Sumbawa Besar saat hari menjelang sore, akan tampak warna jingga yang membalut gugusan pegunungan tinggi dari kejauhan. Tak ada yang memisahkan keduanya selain burung-burung cakrawala yang selalu mengepakkan sayap dan angin yang berhembus melaluinya. Bila hari menjelang pagi, yang terlihat ialah mega-mega putih seperti kapas yang membungkus rapi puncak pegunungan Batulanteh yang konon hanya orang-orang sakti yang mampu menginjakkan kaki di atasnya. Selain itu, bintang-bintang statis dari galaksi bima sakti terlihat kerlap kerlip di langit malam, menyinari sebagian mahluk hidup bagai lampu-lampu yang ada di trotoar jalanan.  Di balik gunung itulah hidup berjuta mahluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan dan pepohonan-pepohonan rindang.

Saya harus mengakui, bahwa Batulanteh adalah surga yang selalu dirindukan oleh setiap orang yang pernah hidup di dalamnya. Bukan hanya merindukan keindahan alamnya, tetapi juga kesyahduan suasana serta kekayaan budaya kulinernya yang membuat mulut tak pernah mau berhenti mengunyah. Dalam tubuh saya, mengalir darah dan daging yang terbentuk dari proses metabolisme makanan-makanan lokal yang selalu tersuguhkan di ruang makan.

Hidup di dalamnya dan menjadi bagian darinya adalah karunia terbesar dari tuhan yang penah saya terima. Sehingga saya tidak pernah malu bila seseorang menanyakan alamat asal. Maka dengan jelas saya katakan bahwa saya hidup di sebuah negeri yang berada di atas awan yang bernama Batulanteh. Tulisan ini hadir di tengah para pembaca bukan hanya untuk mendeskripsikan keindahan alam semata tetapi juga mengajak semua pembaca untuk merefleksikan apa sebenarnya yang bisa kita lakukan untuk memertahankan surga Batulanteh dan mewujudkan surga yang jauh lebih indah lagi.

Saya selalu percaya bahwa masyarakat yang berbudaya adalah masyarakat yang tak pernah melupakan tradisi, adat, serta kedekatannya dengan alam sekitar. Kearifan lokal yang menjadi ciri khas suatu daerah adalah kekayaan terbesar yang dimiliki oleh daerah tersebut. Eksistensisnya bagaikan ruh dalam tubuh, jika ruh itu hilang maka tubuh hanya tinggal nama. Sehingga menjaga budaya lokal dan alam sekitar adalah menjaga ruh Batulanteh agar tetap menjadi surga yang selalu dirindukan. Surga di mana sayuran tak perlu kita beli, masih ada pakis, blunak, lompa, pepaya, nangka, jamur yang disediakan oleh alam. Surga di mana tiap pagi hari silaturrahmi selalu terjalin dengan tradisi bertamu, surga di mana ibu kita masih bisa memasak dengan kayu bakar walau harga bahan bakar minyak (BBM) melambung tinggi. Sehingga sudah menjadi kewajiban kita semua untuk menjaga tradisi tersebut dan eksistensi alam sebagai bentuk rasa syukur atas karunia yang diberikan tuhan selama ini.

Shalat 'Ied Idul Fitri Di Lapangan Desa Baturotok
Shalat ‘Ied Idul Fitri Di Lapangan Desa Baturotok

Musuh terbesar bagi masyarakat yang mendiami daerah pedesaan adalah serangan modernitas yang begitu pesat. Bukan berarti saya tidak setuju dengan adanya modernitas dan globalisasi. Hanya saja modernitas dan globalisasi yang tidak tersaring akan menimbulakn malapetaka di daerah pedesaan. Pertama, modernisme yang tidak terkontrol mengikis budaya sosial dan tergantikan budaya individualisme di masyarakat pedesaan. Kedua, Kaget modernisme menjadikan manusia lupa akan keadaan alam sekitar karena dalam bayangannya kehidupan yang paling indah adalah kehidupan kota yang dihiasi dengan beton-beton bangunan milik pengusaha kaya raya sedangkan masyarakat lokalnya hanya menjadi kuli di tanah sendiri. Ketiga, kaget modernitas merusak karakter generasi muda.

Saya sangat setuju apabila modernitas yang menghantam kita dari kiri, kanan, depan, belakang harus disaring secara masif dan ketat karena akan mengikis eksistensi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Sehingga lahirlah istilah” l see human but no humanity” aku melihat manusia tapi tak melihat sisi kemanusiaan padanya. Ungkapan tersebut merupakan kritikan pedas bagi manusia yang hidup di jaman di mana budaya gotong royong perlahan sirna. Untuk itu, Batulanteh akan selalu menjadi Surga jika entitas yang hidup di dalamnya bersinergi untuk menjaga mutiara-mutiara budaya yang ada di sana.

Penulis : Rifki Sanahdi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here