Home Budaya Kopi Tepal, Cita Rasa Kopi Para Dewa Asal Sumbawa

Kopi Tepal, Cita Rasa Kopi Para Dewa Asal Sumbawa

506
Kopi Tepal, Cita Rasa Kopi Para Dewa Asal Sumbawa

Batulanteh.com – Tren minum kopi yang tengah berlangsung di kota-kota besar di seluruh penjuru tanah air ternyata membawa dampak positif terhadap kehidupan petani-petani kopi nusantara. Salah satunya ialah warga Desa Tepal, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang sudah secara turun temurun mengelola kebun kopi.

“Usaha kopi ini pun saya dapat dari ayah dan sekarang saya kelola biar usaha kopi dapat berjalan terus dan turun ke anak cucu,” ujarnya.

Menurutnya, rasa kopi Tepal tergolong istimewa, perpaduan pahit, manis dan gurih terasa pas di lidah. Tingkat kepahitannya lebih terasa dan agak masam. Salah satu rahasianya adalah dengan menyangrai biji kopi kering di atas pasir panas.

“Biji kopi (dimasak) tidak bersinggungan langsung dengan wadah. Itulah tradisi yang hingga kini masih berlaku di Desa Tepal. Selain itu masyarakat Tepal biasanya mencampurkan kopi dengan bonggol jagung atau beras sangrai. Tujuannya menambah rasa gurih maupun aroma pada kopi sekaligus mencegah penikmat kopi terkena penyakit maag,” ungkapnya.

Masalah pengelolaan kebun kopinya sendiri, diakui saat ini, pengelolaan kopi hutan di kawasan Batulenteh dikelola sendiri – sendiri oleh warga desa Tepal. Meski dikelola secara individu, mereka masih berpegang teguh budaya Samawa, budaya asli Sumbawa yang mengedepankan kebersamaan.

Menurutnya, populasi pohon kopi di Tepal sulit diperkirakan. Ada yang menyebut 350 ha, ada pula yang mengatakan 500 ha.“Di Tepal, pohon kopi terhampar luas dan merupakan kopi hutan. Kopi robusta dan arabika tumbuh disana, bahkan kopi luwak yang menjadi legenda dunia juga tersedia,” tuturnya.

BACA JUGA: Tepal, Sebuah Desa Unik yang Mampu Pertahankan Tradisi

Dia menyebutkan, produksi kopi dari Desa Tepal mencapai 4 s/d 5 ribu ton per tahun. Harga biji kopi kering robusta berkisar Rp. 19 s/d 22 ribu per kg, dan kopi arabika harga jual seharga Rp. 25 s/d 30 ribu per kg. Dengan harga jual itu mereka mendapatkan laba kotor Rp. 200 – 300 juta setiap musim panen. Sejauh ini mereka sudah memasarkan kopinya ke perkotaan di daerah Sumbawa hingga kota – kota besar di Indonesia bahkan pasar Internasional.

“Bisnis kopi ini sangat menguntungkan bagi saya dan masyarakat Tepal, sehingga kami enggan pindah ke kota demi bisnis biji kopi,” pungkasnya. (Tm)

Sumber: http://www.jitunews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here